Sore masih terang benderang, cahaya
matahari jatuh lembut ke dahan-dahan pohon jambu air di pekarangan rumah.
Langitpun tampak begitu indah dan senang menyambut sang maghrib yang kian
hampir. Saat melihat ke ujung langit sebelah barat anak-anak senja pelan dan
malu-malu menampakkan sinarnya. Angin sore nan lembut memaksa para kelelawar
bangun untuk mempersiapkan perlengkapan berburu malam nanti. Sementara
induk-induk ayam sibuk menyeru prajuritnya pulang, pejantan-pejantannya asyik
berkokok merayakan kemenangan. Riuh sekali. Begitulah alam, sungguh indah
mempesona.
Di sore ini
jugalah tgl: 29 april 2011, telah dilangsungkan sebuah pernikahan yang sungguh
meriah dan penuh kemegahan serta gilang gemilang. Luar biasa dan menakjubkan.
Di sana, di negeri inggris sana, dialah pangeran William dan kate. Anak dari
pengeran Charles dan mendiang lady Diana. Cucu dari ratu Elizabeth dan tentu
moyangnya juga orang inggris ras kaukasoit. Namun tetap dari bapak dan ibu yang
sama dengan kita yakni Nabi Adam as dan Hawa.
Semua insan,
di belahan dunia manapun, di Negara apapun atau daerah pedalaman sekalipun yang
telah dapat menikmati siaran televise atau radio, pasti menyaksikan peristiwa
yang bersejarah ini. Mungkin kerana jarang terjadi. Apalagi aku yang tak ada
pilihan lain, karena hampir seluruh station tv menyiarkan peristiwa pernikahan
itu. Sungguh antusias. Macam menonton final pertandingan sepak bola dunia
antara itali vs brazil. Heboh di rumah. Biasalah jika ada orang nikah
keluargaku memang ingin banyak tau. Ku bayangkan jika mereka ada di tempat
acara resepsi pangeran inggris itu, kata-kata wah tentu tak berhenti di mulut
saudara perempuanku ini. Ku dengar dan ikut melihat lewat tv, para penonton di
sana berteriak histeris saat kedua mempelai dari kerajaan inggris itu di
iring-iringan menuju istana. Istana, terbayang olehku keadaan di dalamnya
seperti apakah gerangan? Pasti banyak kamar-kamarnya, wangi ruang tamunya,
ruang makan dan toiletnya juga wangi dan bersih mengkilap. Taman bunga nan
indah berseri juga ruang masak atau dapur yang tertata rapi. Dan juga pasti ada
kolam renang, dan jika begitu pastilah juga di istana itu ada kolam ikan
patinnya, ah, mana mungkin pangeran makan ikan patin? Mungkin saja kolam ikan
arwana. Alangkah sedap tempat yang bernama istana si pangeran. Tapi bagaimana
ngurus istana yang sebesar itu? untuk Menyapu, mengepel, menyiapkan makanan
atau membersikan wc, atau mengganti bohlam yang putus. Ini pekerjaan berat. Ku
rasa kelak ratu kate akan bersusah payah mengurus keluarganya karena dia belum
tau bagaimana susahnya menjadi seorang ibu rumah tangga (IRT).
Begitu
asyik menyaksikan acara sakral nan memukau itu, aku terkenang pada kisah
pernikahan temanku mail bin malim. Secara garis besar hampir samalah dengan acara
pernikahan sang pengeran dari iggris ini. Sama-sama membuat undangan untuk
menjemput tetangga, kerabat dan handai taulan. Jika dalam pernikahan pangeran
william ia memakai seragam kebesaran, mail juga memakai pakaian adat melayu
lengkap dengan tanjak dan keris. Sedangkan Pangeran tak bawak bedil. Di sini
mail tampak lebih garang. Jika pangeran membaca akad atau janji setia di depan
hadirin hadirat, mail juga melaungkan akad hanya sekali ulang di depan handai
taulan dan saudara maranya. Jika pangeran diarak menaiki kereta
kuda nan gagah perkasa dan di iringi puluhan kuda nan gagah berani di sisi
depan dan sisi belakangnya, mail di arak hanya berjalan kaki dan di iringi oleh
beberapa orang saja teman-teman sepermainan dan saudara maranya, dan itu di
lakukan pada tengah hari tepat, saat matahari sedang panas-panasnya atau panas
terik. Kasihan mail berpeluh-peluh, namun dia tampak tersenyum. Jika pernikahan
pangeran william di meriahkan oleh aksi pesawat yang terbang rendah nan
menakjubkan di atas atap istananya, mail hanya di sirami beras berisi uang
siling lima ratusan perak dan bunga manggar yang berjatuhan jadi rebutan
anak-anak dan ponakannya. Dan ada juga yang melempar pakai bunga rampai, hingga
penuh baju pengantin dengan daun pandan. Di tambah sebelum masuk ke dalam rumah
harus pula berpantun-pantun. Penat berdirilah si raja sehari itu. Pangeran
william memang unggul. dan Jika pengeran william telah selesai melalui acara
pernikahannya, dapat di pastikan ia dan istrinya sudah punya rumah pribadi,
punya kulkas, mobil, honda matic, tempat tidur yang bagus dan wc yang harum. Sehingga
mereka dapat merasakan betul kemeriahan dan kebahagian berumah tangga. Lain
dengan mail bin malim, dia harus berpikr keras supaya dapat membawa istrinya ke
sebuah rumah sewa dan menghitung sisa duitnya agar dapat membeli paling tidak
sebuah tempat tidur dan televisi berwarna. Di tambah lagi saat ini mail
hanyalah seorang honorer di sebuah sekolah yang di gaji tiga bulan sekali,
kalau tidak ada halangan. Tak cukup sampai disitu, mail juga telah merahasiakan
pada mertuanya bahwa duit hantaran belanja kemarin adalah pinjaman dari
pamannya yang patut ia kembali apabila sudah jatuh tempo. Begitulah Mail, seorang
lelaki nekad. Entah sampai kapan ia dapat memutihkan hutang. Mungkin karena
mail mempunyai cinta senyawa pada calon istrinya, maka segala upaya di tempuh.
Bersua
Mail dan
calon istrinya fizah bukan baru sebulan dua bertemu lalu menikah. Awal mereka
bertatap muka adalah pada acara tujuh belasan. Saat hari kemerdekaan RI. Mereka sama-sama mengikuti lomba lari goni atau lari karung. Pada saat itu
mereka hanyalah anak sekolahan yang baru tamat SD. Mail terkenal dengan
kecepatannya dalam setiap babak di perlombaan lari goni. Kalau ia ikut selalu
menang dan pulang membawa seperangkat peralatan dapur atau duit dua puluh ribu.
Namun pada tujuh belasan kali ini ia tak mampu mempertahankan gelar
juaranya. Apa sebab? Karena fizah yang waktu itu juga ikut lomba telah
mengalahkannya. Mail kesal juga heran sehingga bertanya-tanya “bagaimana aku
bisa di kalahkan oleh seorang perempun”? ini tak mungkin. Tanyanya dalam hati.
Perlahan-lahan mail menghampiri fizah lalu bertanya dengan lembut “siapa
namamu? Tapi fizah diam.
Mail ingin mengulangi pertanyaannya tapi urung.
“ehm..” mail berbunyi sedikit.
“ehm lagi” fizah menatap.
“mengapa”?
“siapa nama?”
“fizah”
“Oh..”
“rumah dimana”?
“laut, kelapapati laut”
Mail tak
bertanya lagi lalu pergi bersama teman-temannya.
Sejak di kalahkan oleh fizah, mail
masih tak percaya akan kekalahannya. Suatu perasaan yang tak biasa menghampiri
mail yang masih ingusan itu. Bukan karena kecantikan paras atau keindahan tutur
kata sehingga mail memikirkan perempuan itu. Namun karena kekalahan. Mail agak
aneh orangnya.
Hari berlalu, musim berganti.
Hingga libur panjang usai. mail telah mendaftar dan di terima di sebuah sekolah
menengah pertama. SMPN 004 nama sekolahnya. Berdasarkan nomor urut pendaftaran
mail di tempatkan di lokal B, yang kebetulan sama dengan lokal di mana fizah
berada. Sejak itu mereka berteman seperti juga anak-anak lainnya.
Seiring perjalanan waktu dan
semakin kentaranya perubahan emosional anak-anak menuju dewasa atau di sebut
masa puber, mail tumbuh sebagai laki-laki yang cool dan pintar. Bak kumbang
tanah yang berkilap-kilat. Dan fizah tumbuh menjadi seorang gadis remaja nan
rupawan serta sopan. Bagai setangkai bunga melati suci atau seperti putri
khayangan (ini bahasa percintaan). Sehingga mail bertambah sering
memikirkan perempuan cantik anak pak ustadz itu. Tak tau kapan mulainya dan di
mana awalnya, mail merasa senang yang lain ketika dekat fizah. Ini mungkin yang
di sebut rahasia cinta atau rahasia hati. Cinta memang banyak merahasiakan. Cinta yang sederhana saja. Hingga pada saatnya mereka disanding di atas pelaminan yang juga sederhana.
Sore
sembunyi, suara azan maghrib terdengar bersahutan. Kurasakan iblis dan setan
berlarian menuju sumur atau kamar mandi untuk menghindar dari suara azan. Induk
ayam sudah tenang karena anak-anakya telah di temukan. Batang hari di selimuti
mega nan merah di ufuk barat. Suasana senja terasa indah bagiku. Lalu televisi
di matikan. Dan aku bergegas mengambil wudu untuk pergi ke surau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar